Bertemu dengan Haji Alay (penasehat TDA) adalah kesempatan yang luar biasa, karena banyak sekali inspirasi dan motivasi yang diberikan. Mendengarnya saja seperti sesuatu yang hidup yang bisa kita bayangkan seketika karena bukan hanya sekedar kata-kata tapi pengalaman hidup yang selalu disertai dengan tindakan atau “ACTION”.
Saya akan berusaha menyampaikan apa yang beliau katakan tentunya dengan bahasa saya waktu beliau menjadi pembicara di Forum TDA Surabaya di Hotel D’Season dan sharing terbatas malam harinya di Sandwich Carnival-nya Mas Jonathan, ahad 27 juni 2010 kemarin.
Pertama, beliau menyampaikan tentang hadist Rasulullahh SAW, “Yadul ‘ulya khairun mina yadis sufla”, yang artinya, “Tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah”. Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk selalu menjadi tangan di atas alias selalu “memberi” dan bukan “meminta”. Disamping itu kita juga selalu diminta untuk bisa memberi manfaat bagi sesama tentunya sebesar-besarnya yang kita mampu.
Dengan menjadi karyawan, kita hanya memberi manfaat kepada diri kita sendiri dan mungkin keluarga kita saja. Sedangkan menjadi pengusaha (entrepreneur) akan bisa memberi manfaat kepada banyak orang karena pengusaha memiliki karyawan yang harus ditanggungnya.
Menjadi karyawan, penghasilan kita sangatlah terbatas sesuai dengan tingkatan kerja kita saja. Sedangkan menjadi pengusaha (entrepreneur) penghasilannya bisa tidak terbatas tergantung usaha kita dalam melihat peluang dan menambah nilainya sehingga menjadi tinggi hasil yang didapatkan.
Beliau mencontohkan tentang usaha beliau untuk merubah mental “preman” di tanah abang menjadi seorang pengusaha (entrepreneur). Beliau membuat usaha sharing bersama preman tersebut yang diberi nama PT. Hijrah Ila Tho’at, yang berarti hijrah menuju ketaatan. Selain memperbaiki moral para preman tersebut pada saat yang sama beliau melakukan pemberdayaan ekonomi yang bernilai tinggi. Dengan usaha ini, beliau memberikan manfaat yang besar baik bagi diri preman tersebut dan keluarganya maupun lingkungannya.
Dengan menjadi Tangan di Atas, Allah memberi kemuliaan dengan derajat yang tinggi kepada siapapun yang melakukannya. Dengan bersedekah, kita bisa mendapatkan 700 kebaikan sesuai dengan janji Allah SWT. Dan itu semua bisa kita lakukan hanya jika kita “berdaya” secara finansial.
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah SWT seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (QS. All Baqarah (2) : 261)
Yakinlah bahwa dengan memberi kita akan mendapat lebih banyak sesuai dengan janji Allah SWT. Contohnya sangat jelas seperti yang saya tulis di atas, upaya yang dilakukan Haji Alay selain bernilai spiritual juga bernilai ekonomi tinggi.

Kedua, beliau menyampaikan tentang hikmah yang terkandung dalam penggalan Q.S. Ali Imran (3) : 191, “Rabbana ma khalaqta hadza bathila, SubhanaKa faqina ‘adzaban naar” yang artinya, “………Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia, Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
Di sekitar kita banyak terhampar ayat-ayat Allah yang jika kita mengetahuinya maka akan menjadi peluang ekonomi yang sangat besar. Kalau ada orang yang masih kesulitan melihat peluang, maka mintalah dia untuk melihat di sekitarnya dengan seksama kemudian merenungkannya dan tentunya segera melakukannya agar segera memiliki nilai ekonomi.
Beliau mencontohkan bagaimana beliau melihat ruko yang dipenuhi sampah dan menjadi markas preman dan orang gila kemudian dirubahnya menjadi ruko yang bersih, ramai pengunjung dan kemudian menjadi pusat perekonomian yang bernilai tinggi. Di antara ruko itu dibuatlah klinik kesehatan murah dibawah bendera Haji Alay Peduli Ummat, dijadikan pusat penjualan berbagai kebutuhann dengan menggandeng mitra pebisnis tentunya. Sehingga dari sini, ruko yang sebelumnya kumuh dan tidak terpakai menjadi ruko yang bernilai ekonomi tinggi alias “mahal” he..he.
Rabbana ma khalaqta hadza bathila, SubhanaKa faqina ‘adzaban naar”
Ketika beliau melihat ada Mall yang sepi, maka beliau bertemu dengan pemiliknya dan menawarkan kerja sama untuk pengelolaanya. Karena selalu ingin menjadi tangan Di Atas, maka beliau mengajak ppedagang kaki lima (PKL) yang berada di jalan-jalan untuk memiliki mental pengusaha dengan membuka stand di mall tersebut. Untuk 6 bulan pertama para PKL bisa menempati stand di Mall tersebut gratis, dan selanjutnya membayar tentunya. Dan alhamdulillah setelah berjalan lebih 6 bulan rata-rata bisa membayar harga sewa stand dan tentunya terjadi peningkatan penghasilan.
Maka, dari sini Haji Alay sering disebut orang sebagai Dokter Mall. Karena dimanapun ada Mall yang sepi yang tidak terkelola dengan baik pastilah Haji Alay ada di situ. Bahkan saat ini pemilik Mall yang mencari-cari beliau untuk diajak kerja sama dalam pengelolaan Mall tersebut. Sungguh Inspiratif dan Funtastic.
Menjadi pengusaha (entrepreneur) alias Tangan Di Atas masih terbuka sangat lebar di negeri kita ini. Konon negara yang kaya atau maju harus disokong oleh minimum 2 % entrepreneur yang ada di negaranya. Mari kita buat negara kita menjadi kaya dengan menjadi entrepreneur. Jika Indonesia berpenduduk 220 juta maka harus disokong dengan 4,4 juta entrepreneur. Kata Pak Ciputra, Indonesia baru punya 400 ribu entrepreneur, berarti kita masih punya hutang 4 juta entrepreneur. Siapkah anda menjadi entrepreneur berikutnya ?
Ini dulu cerita dari saya, nanti kalau ada tambahan akan saya posting di tulisan berikutnya.
Salam Sukses Indonesia !
Arif Prasetyo Aji
Attaqi Collection | Exist Bangun Nusantara



Subhanallah, luar biasa. Semoga Allah selalu memberikan berkah-Nya kepada Haji Alay